Integrasi Nilai-Nilai Keislaman dalam Pembelajaran

Integrasi Nilai-Nilai Keislaman dalam Pembelajaran
Oleh: Andri Sattriawan, S.Pd. Gr., M.Pd.
 

Berdasarkan Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 01/PED/I.0/B/2018 tentang pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah, pada BAB I Pasal 1 Ketentuan umum nomor 11 yang menyatakan bahwa Pendidikan Muhammadiyah adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang mengintegrasikan antara pendidikan umum dan pendidikan agama Islam berkemajuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Memahami makna dari Pendidikan Muhammadiyah tersebut, kita ketahui bahwasanya ciri khas pembelajaran di sekolah Muhammadiyah yaitu terintegrasinya pendidikan umum dan Pendidikan agama islam di dalam setiap proses pembelajaran. Pada kenyataannya, apakah semua sekolah Muhammadiyah telah mengintegrasikan Pendidikan umum dan Pendidikan islam dalam proses pembelajaran? Jawabnya tidak semua yang sudah melakukannya. Guru di Sekolah Muhammadiyah masih banyak yang bingung bagaimana mengintegrasikan Pendidikan umum dan Pendidikan islam dalam proses pembelajaran.

Guna membantu Guru di Sekolah Muhammadiyah dalam mengintegrasikan Pendidikan umum dan Pendidikan islam ataupun bahasa yang sering saya sampaikan adalah mengintegrasikan nilai-nilai islam dalam pembelajaran. Saya telah merumuskan pola sederhana dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman pada pembelajaran yang saat ini digunakan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang dan SMP Muhammadiyah 2 Bandar Lampung.

Proses pengintegrasian di awali dari tahapan perencanaan pembelajaran yang biasa kita sebut dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berdasarkan Permendikbud No.22 Tahun 2006, RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP terdahulu berdasarkan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, bahwasanya ada 13 komponen RPP yang harus ada pada RPP. Kemudian berdasarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tentang penyederhanaan RPP, cukup hanya 3 Komponen Inti dalam RPP yaitu Tujuan Pembelajaran, Langkah Pembelajaran dan Penilaian/Asesmen Pembelajaran. Pada pengembangan RPP yang Terintegrasi Nilai-Nilai Keislaman saya menambahkan satu komponen baru yaitu Ayat/Hadits/Nasehat Relevan yang dicantumkan setelah tujuan pembelajaran.

Komponen Ayat/Hadits/Nasehat Relevan berisi tentang ayat Al-Qur’an, Hadits ataupun Nasehat yang relevan sesuai dengan materi ajar yang akan disampaikan saat pembelajaran. Pada komponen ini guru diberikan kesempatan mencari ayat ataupun hadits yang bisa diintegrasikan sesuai materi yang diajarkan, namun jika guru kesulitan dalam mencari ayat atau hadits yang relevan, guru boleh menuliskan nasehat dari ulama, tokoh muslim atau bahkan nasehat dari sang guru sendiri yang dikaitkan dengan materi yang akan disampaikan. Sebagai contoh ketika tujuan pembelajarannya adalah setelah melihat benda (jumlah maksimal 10), siswa mampu menghitung banyak benda dengan tepat. Tujuan Pendidikan tersebut adalah salah satu contoh pada materi ajar matematika penjumlahan. Kita bisa gunakan nasehat yang relevan untuk diintegrasikan yaitu “Semakin banyak amal kebaikan maka akan banyak pahala untuk kita”. Relevansinya yaitu ketika sebuah angka positif yang semakin besar dijumlahkan dengan angka positif yang besar maka akan mendapatkan hasil positif yang besar pula, Semakin banyak amal kebaikan maka akan semakin banyak pahala yang akan kita dapatkan.

Pada Komponen Langkah Pembelajaran saya merumuskannya dengan AIDA yaitu Attention (Perhatian), Interest (menarik), Desire (keinginan) dan Action (Aksi). Pada tahapan Attention guru membuat perencanaan bagaimana membangun perhatian siswa dengan terintegrasi nilai-nilai islam. Pada tahapan Pembelajaran Atention guru wajib mengawali dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim dan Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, dilanjutkan dengan menunjukan ice breaking awal yang menyemangati siswa untuk mendapatkan perhatian mereka. Contohnya dengan Tepuk-Tepuk Tangan, ataupun Ice Breaking yang telah dibuat sesuai dengan materi ajar yang akan disampaikan.


Tahapan Interset (menarik) yaitu tahapan membangun ketertarikan dalam belajar yaitu dengan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata ataupun menggunakan media yang dapat menarik siswa dalam mengikuti pembelajaran. Contohnya dengan menunjukan koin-koin yang disiapkan untuk pembelajaran kepada siswa. Maka ketika melihat hal ini siswa akan bertanya-tanya dalam dirinya, mau diapakan ya koin logamnya? Ini akan memacu ketertarikan siswa dalam belajar. Pada tahapan ini juga guru menjelaskan ayat/hadits ataupun nasehat yang relevan pada proses pembelajaran.

Selanjutnya yaitu tahapan Desire (keinginan). Pada tahapan ini siswa dibuat semakin ingin tahu dalam belajar dan ingin mampu memahami lebih jauh lagi. Bisa dengan cara siswa melakukan sebuah percobaan, ataupun diskusi kelompok terkait materi yang dipelajari.

Terakhir yaitu tahapan Action (Aksi) yaitu menutup pembelajaran dengan memberikan value (nilai-nilai) kebaikan dari materi yang kita ajarkan sehingga mereka akan mempraktekan kebaikan tersebut dalam keseharian mereka. Pada tahapan ini pula guru mengucapkan terimakasih kepada siswa karena telah belajar dengan baik dan ditutup dengan kalimat Alhamdulillah dan Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Siswa menjawab dengan Terimakasih Bapak/Ibu Guru dan menjawab Salam agar siswa terlatih juga dengan mengucapkan terimakasih dan menjawab salam.

Komponen terakhir pada tahapan pembelajaran yaitu Asesmen Pembelajaran. Pada Asesmen/Penilaian Pembelajaran terkhusus pada bentuk soal tes. Kita dapat mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan beberapa hal berikut ini. Pertama dengan menggunakan nama-nama Islam pada soal cerita dan perlu dihindari penggunaan nama Guru/Siswa di Lingkungan Sekolah terutama pada konten negatif. Misalnya; Ridwan membuang sampah sembarangan. Sikap Rohmat seharusnya? Pada contoh tersebut sudah menggunakan nama yang Islami, namun menggunakan nama guru di sekolah dan bentuk ceritanya bernilai negatif. Hal ini perlu dihindari agar tidak membuat penilaian diri guru ataupun siswa yang dicantumkan namanya menjadi tidak baik.

 Kedua, buat soal cerita yang berkisah islami. Misalnya; Aisyah rajin sholat 2 rokaat dhuha setiap hari. Jika Aisyah sudah melakukannya selama 3 hari, Berapa rokaat sholat dhuha yang telah dilakukan Aisyah? Pada contoh soal ini sudah menggunakan nama islami dan cerita yang berkisah islami. Soal-soal seperti ini diharapkan dapat menginspirasi siswa dalam melakukan kebaikan.

Ketiga, mencantumkan tulisan latin ayat, hadits ataupun nasehat relevan pada bagian bawah halaman soal. Di setiap halaman soal terdapat ayat/hadits atapun nasehat relevan yang berbeda-beda disetiap lembar soal muatan pembelajaran. Jadi dimungkinkan siswa mendapatkan tulisan motivasi yang berbeda-beda dari Bapak/Ibu Gurunya di setiap soal muatan pembelajaran.

Demikianlah tahapan-tahapan sederhana yang saya rumuskan untuk membantu guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang terbaik adalah proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik pula. Guru siap mengajar sama dengan siswa siap belajar. Hal yang terpenting lagi adalah sesuatu yang sudah dirancang dengan baik , pastikan juga dipraktekan dengan baik, bukan hanya sekedar pelengkap dalam RPP. Semoga bermanfaat.


Jonny Richards

Templateify is a site where you find unique and professional blogger templates, Improve your blog now for free.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama