A.
Pengertian
Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan
yang ditempuh. Metode adalah cara dan gaya (method and
style) yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada komunikan.
Adapun yang dimaksud dengan metode disini yaitu cara, teknik atau pendekatan
pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi dalam proses belajar
mengajar di sekolah. Kegiatan proses belajar mengajar tidak bisa berjalan
dengan sendirinya, tanpa dukungan cara, gaya atau pendekatan yang sangat
memadai. Oleh sebab itu, metode adalah satu kesatuan yang melekat pada diri
pribadi guru.
B.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut
Gagne (1975), dalam (Saputro dan Abidin, 2005:3) “pembelajaran adalah
seperangkat peristiwa yang diciptakan dan dirancang untuk mendorong,
menggiatkan dan mendukung belajar siswa”. Sedangkan pendapat dari Raka Joni
(1980:1), dalam (Saputro dan Abidin, 2005:3) “pembelajaran adalah penciptaan
sistem lingkungan yang memungkinkan teradinya belajar”. Penciptaan sistem
lingkungan berarti menyediakan peristiwa kondisi lingkungan yang dapat
merangsang anak untuk melakukan aktivitas belajar. Pembelajaran didefinisikan
sebagai pengorganisasian atau penciptaan atau pengaturan suatu kondisi
lingkungan yang sebaik-baiknya yang memungkinkan terjadinya belajar pada
peserta didik.
C.
Pembelajaran Menyenangkan
Kata Menyenangkan memiliki kata dasar Senang yang artinya puas, lega, tanpa rasa susah dan kecewa, betah,
berbahagia, suka gembira, saying, dalam keadaan baik, mudah. Suasana
belajar-mengajar yang menyenangkan adalah suasana belajar yang tidak membuat
siswa bosan, yang tidak membuat siswa takut salah, takut ditertawakan, dan
takut disepelekan melainkan dapat membuat siswa memusatkan seluruh perhatian
secara penuh pada pelajaran termasuk juga penggunaan lingkungan sekitar
sekolahan sebagai salah satu media atau sumber belajar yang mendukung agar
tetap menarik perhatian siswa. Guru harus dapat menciptakan suasana
belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat memusatkan perhatiannya
secara penuh pada pelajaran. “Kegembiraan dapat membuat siswa siap belajar
dengan lebih mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif siswa“ (De Porter,
Reardon dan Singer-nourie, 1992:26).
Pembelajaran
yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bisa membuat
siswa berani mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkannya tanpa membuat
mereka takut. Baik takut salah, takut ditertawakan maupun takut disepelekan,
sehingga pada akhirnya siswa akan selalu senang untuk belajar (Dinas Pendidikan
Kota Malang, 2004:3.10).
Walberg dan Greenberg 1997, (dalam De
porter, Reardon dan singernourie, 1992:19) berpendapat “Suatu penelitian
menunjukkan bahwa lingkungan sosial atau suasana kelas adalah penentu
psikologos utama yang dapat mempengaruhi belajar akademis”. Dari pendapat
tersebut dapat dikemukakan, bahwa pada dasarnya suasana atau keadaan lingkungan
belajar dapat mempengaruhi emosi pada diri siswa. Untuk menumbuhkan semangat
dan antusias siswa agar tetap konsentrasi pada pelajaran, maka guru dapat
merubah suasana kelas yang awalnya biasa saja menjadi luar biasa dengan
keterampilan mengelola kelas.
Dave Meier (2002:36) memberikan
pengertian menyenangkan atau fun sebagai suasana belajar dalam keadaan gembira.
Suasana gembira disini bukan berarti suasana ribut, hura-hura, kesenangan yang
sembrono dan kemeriahan yang dangkal. Ciri-ciri suasana belajar yang
menyenangkan dan tidak menyenangkan di antaranya adalah sebagai berikut :
Ciri suasana belajar yang menyenangkan:
a.
Rileks
b.
Bebas dari tekanan
c.
Aman
d.
Menarik
e.
Bangkitnya minat belajar
f.
Adanya keterlibatan penuh
g.
Perhatian peserta didik tercurah
h.
Lingkungan belajar yang menarik
(misalnya keadaan kelas terang),
i.
pengaturan tempat duduk leluasa untuk
peserta didik bergerak
j.
Bersemangat
k.
Perasaan gembira
l.
Konsentrasi tinggi
Ciri suasana belajar yang tidak
menyenangkan:
a.
Tertekan
b.
Perasaan terancam
c.
Perasaan menakutkan
d.
merasa tidak berdaya
e.
tidak bersemangat
f.
malas/tidak berminat
g.
jenuh/bosan
h.
suasana pembelajaran monoton
i.
pembelajaran tidak menarik siswa
D.
Pembelajaran
Efektif
Secara harfiah efektif memiliki makna
manjur, mujarab, berdampak, membawa pengaruh, memiliki akibat dan membawa
hasil. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menghasilkan apa yang
harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung seperti
dicantumkan dalam tujuan pembelajaran.
Pembelajaran dapat dikatakan efektif
jika dapat menghasilkan apa yang harus dikuasai oleh siswa setelah proses
pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan yang
harus dicapai.
E.
Menciptakan
Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan
Dalam rangka menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, beberapa
hal yang harus
dilakukan oleh guru antara lain :
1.
Menyapa siswa dengan ramah
dan bersemangat
Menciptakan awal yang
berkesan adalah penting karena akan mempengaruhi proses selanjutnya. Jika
awalnya baik, menarik, dan memikat, maka proses pembelajaran akan lebih hidup
dan menggairahkan. Oleh karena itu
selalu awali kegiatan pembelajaran dengan memberikan sapaan hangat kepada
siswa, misalnya “anak-anak senang bertemu kalian hari ini, kalian adalah anak-anak
bapak atau/ibu yang hebat”. Karena sapaan hangat dan raut wajah cerah memantulkan
energy positif yang dapat mempegaruhi semangat para siswa. Kita dapat bayangkan
jika seorang guru ketika memulai pembelajaran dengan raut muka ruwet, tidak senyum,
penampilan kusut, tentu saja suasana kelas menjadi menegangkan dan menakutkan.
2. Menciptakan
suasana rileks
Ciptakanlah lingkungan yang releks, yaitu dengan menciptakan
lingkungan yang nyaman. Oleh karena itu aturlah posisi tempat duduk secara
berkala sesuai keinginan siswa. Bisa memakai format U, lingkaran, Cevron, dan
lain-lain. Selain itu, ciptakanlah suasana kelas dimana siswa tidak takut
melakukan kesalahan. Untuk menanamkan keberanian kepada siswa dalam
mengemukakan pendapat atau menjawab pertanyaan, katakan kepada siswa jika
jawabannya salah katakan “KAN LAGI BELAJAR”. Karena sedang belajar, maka kesalahan
adalah suatu yang lumrah dan tidak berdosa.
Variasi Tata Letak/ Formasi Bangku di Ruang Kelas
a.
Bentuk
U c.
Bentuk Lingkaran
b. Bentuk
Konfrensi d.
Bentuk Kelompok
3. Memotivasi
siswa
Motivasi adalah sebuah konsep utama dalam banyak teori
pembelajaran. Motivasi ini sangatlah dikaitkan dengan dorongan, perhatian,
kecemasan, dan umpan balik/penguatan. Adanya dorongan dalam diri individu untuk
belajar bukan hanya tumbuh dari dirinya secara langsung, tetapi bisa saja
karena rangsangan dari luar, misalnya berupa stimulus model pembelajaran yang
menarik memungkinkan respon yang baik dari diri peserta didik yang akan
belajar. Respon yang baik tersebut, akan berubah menjadi sebuah motivasi yang tumbuh
dalam dirinya, sehingga ia merasa terdorong untuk mengikuti proses pembelajaran
dengan penuh perhatian dan antusias.
Apabila dalam diri peserta didik telah tumbuh respon, hingga
termotivasi untuk belajar, maka tujuan belajar akan lebih mudah dicapai.
Peserta didik yang antusias dalam proses pembelajaran memiliki kecenderungan
berhasil lebih besar dibanding mereka yang mengikuti proses dengan terpaksa
atau asal-asalan.
4. Menggunakan ice breaking
Dalam pelajaran terkadang kita melihat timbulnya suasana yang
kurang mendukung hingga menyebabkan tidak tercapainya tujuan dari pembelajaran.
Suasana yang dimaksud adalah kaku, dingin, atau beku sehingga pembelajaran saat
itu menjadi kurang nyaman. Icebreaking berguna untuk menaikkan kembali derajat
perhatian peserta pelatihan (training). Hal ini perlu dilakukan oleh guru
karena berdasarkan hasil penelitian, rata-rata setiap orang untuk dapat
berkonsentrasi pada satu focus tertentu hanyalah sekitar 15 menit. Setelah itu
konsentrasi seseorang sudah tidak lagi dapat memusatkan perhatian (focus). Seorang
guru harus peka ketika melihat gejala yang menunjukkan bahwa siswa sudah tidak dapat
konsentrasi lagi dengan melakukan ice breaking agar siswa menjadi segar dan konsentrasi
kembali. Ice breaking bisa berupa yel-yel, tepuk tangan, menyanyi, gerak dan lagu, gerak anggota
badan, dan games.
5. Menggunakan
metode yang variatif
Individu adalah makhluk yang unik memiliki kecenderungan,
kecerdasan, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Paling tidak ada 4 gaya belajar
siswa seperti yang diungkapkan Howard Gardner yaitu Auditory, Visual, Reading
dan Kinesthetic. Guru perlu menyadari bahwa
siswa dalam satu kelas memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Oleh karena
itu, untuk mengakomodir semua siswa belajar dengan latar belakang yang berbeda
tersebut guru dapat menggunakan metode yang bervariasi.
F.
Tantangan/Kendala
dalam Menciptakan Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan
Selain beberapa segi positif yang dapat dilakukan
untuk pengembangan profesionalisme guru, pihak sekolah juga menemui beberapa
kendala. Umumnya kendala-kendala yang dihadapi selama ini adalah sebagai berikut
:
1.
Faktor Finansial
Kendala
paling utama yang sering dihadapi oleh sekolah-sekolah adalah aspek finansial.
Aspek finansial adalah unsur penting dalam rangka memperlancar penyelenggaraan
proses belajar mengajar pada sekolah. Bahkan dalam setiap kegiatan yang
menyangkut penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak bisa terlepas dari aspek
finansial. Keterbatasan sumber finansial mempengaruhi kegiatan proses
pengembangan akademik, termasuk sumber daya guru. Segala aktivitas yang
menyangkut kegiatan sekolah tidak dapat berlangsung secara maksimal karena
terhalang oleh terbatasnya finansial. Karena itu, aspek finansial merupakan
salah satu faktor penting yang ikut menumbuhkan-kembangkan sekolah, termasuk
untuk pengembangan profesionalisme guru.
2. Motivasi Guru Rendah
Rendahnya motivasi guru dipengaruhi beberapa faktor.
Pertama, aspek kebutuhan fisiologis atau latar belakang ekonomi keluarga guru.
Bagi guru yang berstatus DPK, menganggap bahwa beban dan tugas sebagai guru
hanya terbatas untuk mengajar saja. Meskipun pendapatan mereka jauh lebih
signifikan ketimbang para guru yang tidak berstatus DPK. Akibatnya, visi guru
terhadap peningkatan perubahan dan kemajuan untuk sekolah dapat dibilang kurang
efektif. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa komitmen guru, khususnya yang
berstatus DPK terhadap peningkatan kualitas tidak berjalan secara maksimal.
Kedua, kesibukan guru di luar sekolah. Seperti pada poin pertama, bahwa tidak
sedikit para guru yang mempunyai pekerjaan sambilan di luar. Artinya bahwa para
guru memiliki tugas/pekerjaan ganda yang sama-sama memerlukan konsentrasi, baik
dari segi waktu maupun kemampuan. Sehingga hal ini mempengaruhi kelancaran dan
pengembangan profesi guru. Selanjutnya, peran dan motivasi guru menjadi
berkurang sebab para guru sering disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang
hampir sama padatnya dengan kesibukan yang harus dipersiapkan untuk sekolah.
Ketiga, faktor kebiasaan-kebiasaan guru yang sulit diubah. Faktor ini
berkecenderungan bahwa sebagian guru memang sulit untuk diajak menyesuaikan
perubahan-perubahanyang ada, termasuk merespon kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan sekolah. Hal terkait misalnya, tentang pendayagunaan sumber-sumber
pembelajaran yang masih bersifat monoton. Bahkan, di kalangan guru ada yang
berpandangan, bahwa cara dan pendekatan yang selama ini digunakan merupakan
sesuatu yang final. Artinya, seorang guru melakukan tugasnya dengan berpatokan
kebiasaan-kebiasaan lama yang baku. Meskipun kebiasaan tersebut sesungguhnya
sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan dalam konteks pembelajaran saat ini.
Di samping itu, kebiasaan-kebiasaan lainnya yaitu terlambatnya tugastugas guru
yang semestinya harus diselesikan. Seperti pembuatan dan penyusunan program
pengajaran bagi guru bidang studi, tugas administrasi sekolah dan lain-lain.
3. Lemahnya Kontrol dan
Manajemen Akademik
Selain dua kendala tersebut di atas, faktor lain
yang menjadi kendala pada beberapa sekolah yaitu lemahnya kontrol dan manajemen
akademik. Fungsi pengendali mutu akademik seringkali tidak berjalan secara
fungsional. Hal ini terungkap bahwa dalam pengawasan mutu akademik, para guru
banyak yang lepas dari pengawasan sekolah. Tugas-tugas dan tanggung jawab yang
diembankan sekolah kepada para guru, tanpa dilakukan pengecekan dan pembahasan
ulang untuk mencari keabsahannya. Tidak berjalannya kontrol akademik ini
desebabkan terbatasnya pembimbing akademik yang kompeten di bidangnya, tidak
adanya penyelia yang mengarahkan ke arah pengembangan mutu guru, dan banyaknya
beban tugas mengajar di sebagian kalangan guru.
Berdasarkan hasil temuan di lapangan, bahwa
kelemahan ini menjadi alam kebebasan para guru di sekolah untuk tidak
berhati-hati dalam menjalankan tugasnya. Atau dalam bahasa lain, mereka
terbebas dari pengawasan dan pengendalian yang semestinya di lakukan sekolah.
Kelemahan lain yang dihadapi oleh sekolah adalah manajemen akademik. Akibatnya,
kelemahan tersebut menyebabkan tidak berjalannya tugas-tugas secara efektif.
Kelemahan manajemen akademik ini telah mengaburkan orientasi sekolah, baik
jangka pendek, menengah maupun jangka panjangnya. Dengan demikian, kelemahan
ini membawa implikasi pada lemahnya produktivitas, responsibilitas,
profesionalisme dan akuntabilitas.
Daftar
Pustaka
Dinas
Pendidikan Kota Malang. 2004. Bahan
Pelatihan: Manajemen Berbasis Sekolah: Malang.
De
Porter Bobbi, Reardon Mark, Singer-Nourie Sarah. 1992. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
Indrawati,
Setiawan Wanwan. 2009. Pembelajaran
Aktif, Efektif, dan Menyenangkan untuk Guru SD. Jakarta: PPPPTK IPA
Saputro
Supriadi, Abidin Zainul. 2005. Strategi Pembelajaran.
Malang: Laboratorium Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Zaini,
Ahmad, Afan. 2013. Upaya Guru
dalamMengembangkan Metode Pembelajaran. Jurnal Ummul Quro Vol III, No.2.




